Kemurkaan Mesir terhadap kerusuhan yang menelan setidaknya 73 korban tewas usai pertandingan Al Masry dan Al Ahly, Rabu (1/2) malam, memuncak dengan pemecatan presiden federasi (EFA) oleh Perdana Menteri Kamal al-Ganzouri.
Rapat darurat digelar parlemen Mesir, Kamis pagi waktu setempat, dan hampir pada saat bersamaan Al-Ganzouri mengumumkan pemecatan Samir Zaher beserta stafnya. Al-Ganzouri juga menyatakan gubernur provinsi Port Said dan kepala polisi setempat mengundurkan diri dari jabatan masing-masing.
Namun, Zaher berencana balik melaporkan tindakan sang Perdana Menteri kepada FIFA sebagai bentuk intervensi pemerintah terhadap otoritas sepakbola di negara itu. Jika dibahas, FIFA dapat menurunkan sanksi kepada Mesir sehingga mereka kehilangan hak berpartisipasi di Olimpiade London musim panas nanti.
Kerusuhan juga menyebabkan pelatih Al Ahly Manuel Jose tidak berminat melanjutkan tugasnya setelah melakukan pertemuan dengan presiden Hassan Hamdi. Begitu pula dengan para pemain bintang mereka, seperti Mohamed Barakat dan Emad Meteb yang tidak bersedia bermain lagi untuk Al Ahly.
EFA masih terus membahas tuntutan sejumlah klub, antara
