Thursday, December 29, 2011

Dualisme Liga Hanya Akan Hambat Perkembangan Sepakbola Nasional

Mantan penyerang timnas Indonesia dan Mastrans Bandung Raya, Peri Sandria, menilai dualisme kompetisi di Indonesia justru menghambat sepak bola nasional.

Pergantian ketua umum PSSI bulan Juli lalu tidak serta merta menyelesaikan masalah sepak bola nasional, yang memang sudah keropos sejak lama. Masalah baru justru muncul, yakni bergulirnya dua kompetisi. Yang pertama adalah Indonesian Premier League (IPL) dan yang lain adalah Indonesia Super League (ISL).

Yang disebut pertama merupakan kompetisi resmi PSSI, namun kurang diminati klub-klub Indonesia, sementara yang lain dianggap haram oleh PSSI, namun mendapat dukungan dari klub-klub besar Indonesia.

Peri, yang sempat merasakan atmosfer sepak bola nasional dengan dua kompetisi, menilai apa yang terjadi sekarang berbeda dengan apa yang terjadi di jamannya dulu.

“Permasalahan ini berbeda dengan saat Galatama (kompetisi klub profesional) dan Perserikatan (kompetisi klub amatir), karena status dua kompetisi itu berbeda. Tapi kalau sekarang dua-duanya sama-sama mencap dirinya profesional dan kasta tertinggi,”

Peri menilai, munculnya dua kompetisi saat ini bukan didasarkan pada keinginan untuk membangun sepak bola yang lebih baik, namun justru untuk mengakomodir kepentingan-kepentingan tertentu.

“Dualisme kompetisi ini malah akan menghambat sepakbola nasional karena lebih mementingkan masalah di luar lapangan dari pada yang di atas lapangan,” lanjutnya.

Mantan penyerang yang berhasil meraih gelar juara Liga Indonesia bersama Mastrans Bandung Raya itu menilai kompetisi ISL yang telah bergulir selama empat tahun terakhir masih lebih baik dibandingkan IPL, yang menjalani musim perdananya tahun ini.

“Kalau dilihat sejauh ini yah sudah pasti ISL, karena mereka memang sudah disiapkan sebelumnya oleh AFC dan FIFA. Sedangkan untuk IPL mereka masih baru, masih butuh banyak jam terbang,” Peri memberikan pendapatnya.

“Tetapi saya mendukung dua-duanya saja lah. Pokoknya yang terbaik itu yang harusnya jadi tolak ukur,” tandas Peri, yang kini menggeluti dunia Sekolah Sepak Bola (SSB).

Munculnya IPL mendapat tentangan yang cukup kuat dari sejumlah anggota karena proses pembentukannya yang tidak transparan. Termasuk pemberian promosi gratis kepada enam klub tanpa proses verifikasi yang jelas. Tentangan ini bergulir semakin kuat hingga menjelma menjadi keinginan digelarnya Kongres Luar Biasa untuk mengganti ketua umum Djohar Arifin Husin.

“Itu wajar, karena organisasi (PSSI) saat ini tidak punya tujuan yang jelas. sedangkan masyarakat indonesia sudah bingung, mau dikemanakan sepakbola ini,” komentarnya.

“Kalau ketua umumnya siapa saja lah. kami hanya harapkan sepakbola semakin baik, dan tidak membuat kondisinya semakin ruwet seperti saat ini,” pungkas bomber yang merasakan manisnya medali emas SEA Games 1991 itu.[yob]

Berita Utama